Aku
menemuinya. Berusaha mencari sosok dirinya diantara kerumunan manusia pagi itu.
Penglihatanku beredar menyapu seluruh sudut ruangan. Mataku terpaku. Sosok yang
benar-benar kurindukan akhir-akhir ini, sedang bersama rindunya yang lain.
Rindunya,
yang selama ini (mungkin) berusaha dia jamah.
Dia, yang seolah tak memperhatikanku.
Pengagum senjanya di semesta lain. Yang masih benar-benar butuh senyumannya
untuk mengajaknya bangkit.
Mengapa ketika aku
berusaha melepas bayangmu, kau datang secara tiba-tiba? Memberikan daftar kenangan indah (lagi) yang kauberi untukku. Namun, disaat aku benar-benar lupa
yang namanya jatuh, kau mengacuhkanku. Bahkan tidak mempedulikanku dan tidak
membantuku bangkit dari rasa sakit yang sudah sering kurasakan.
Masa lalu..
Yang sudah membuatku sakit dan terhempas. Kenangan, yang sulit
untuk dilupakan seringkali menghantui perasaanku. Saat aku mencoba berbicara
padamu. Berusaha mencari stok perbendaharaan kata di pikiranku. Aku gelagapan
dan salah tingkah menghadapi sikapmu yang selalu seperti itu. Dingin.
Seringkali, aku bingung harus menyalahkan siapa. Dirimu, yang
tidak pernah peka. Perasaanku sendiri, yang sudah hampir membunuhku. Ataukah
rindumu yang lain, yang sudah membuat senyummu tak pernah pudar. Dan menghasilkan
rinai gerimis di hatiku, tanpa surya dan pelangi.
Rinai gerimis itulah yang kemudian kuubah menjadi ‘senyum
pura-pura’ milikku yang (mungkin) bisa membodohimu. Ekspresi.
Kurasa. Aku tidak yakin apa ilmu karma itu masih ada. Karena
selama ini, aku belum pernah bertemu karma dalam mozaik hidupku.
Aku tahu kau marah.
Marah karena menjadikan dirimu tokoh utama dalam ceritaku.
Namamu yang selalu mengaliri doa-doaku. Bahkan disaat aku gembira, terbayangkan
senyum indah di wajahmu.
Aku rindu.
Rindu saat-saat kenangan itu ada. Kapan bisa kita ulangi lagi
kenangan itu? Kenapa tidak bisa? Saat aku dan kamu berubah menjadi kita. Tanpa
ada lagi dingin disaat aku menatap wajahmu. Saat kau melihatku lekat-lekat
dengan mata senyummu.
Aku ingin pergi ke Paris dan memelukmu di pangkuan senja. Aku
tahu itu mustahil. Tapi tak ada salahnya mencoba kan? Aku yakin, kau selalu
disana. Menjelma pelita dalam lorong yang gelap dan berdebu. Mencari jati diri
dari sosokmu yang sebenarnya.
Kenapa tidak ada pengulangan kenangan disini? Tak ada.
Kau tahu, percakapan kita hanya sekedar; ‘Kas, kas...’ Just it! No one more. Aku rindu semua itu. Kenangan, basket, sepakbola, lagu, dan kamu. Juga kata-kata lain yang keluar dari bibir mungilmu selain ‘Kas-kas’ mu itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar