Ketika cinta datang bersama pelukan senja, dengan senyum dan tawa disampingnya; Tanpa harus menguras airmata.
Selasa, 04 Maret 2014
Perih itu (lagi)
Mengingatnya; hanya akan
mengais luka yang belum rapat seutuhnya. Menyisakan tentang pangeran senja yang
sepenuhnya hanyalah kenangan. Separuh penggalan musik Mozart masih mengalun
jelas di telingaku, membuat perih semakin menyesakkan dada dan membuat airmata
menderas sia-sia. Terkadang, yang sering dirisaukan pembatas waktu adalah
tambatan rindu. Kau tahu, saat aku mendengar ceritamu dari bibir mungilmu.
Angin senja seakan menamparku, membuatku sadar bahwa dia bukan milikku
seutuhnya. Saat aku hampir menangisi semua sastraku; aku ingat senyumnya, tawa
renyahnya, jabat tangannya, bahkan separuh memori yang hampir tergilas itu
masih ingat hal konyol yang sering dilakukannya. Deru angin subuh pun tahu, aku
masih mencintainya, tidak ingin kehilangan (lagi) semua kenangan tentangnya.
Namun saat bintang itu gugur, aku seolah ikut hilang dari kehidupannya. Seperti
menyusup ke dimensi lain, yang pastinya kau dan dia tak pernah tau lagi aku
dimana. Kurasa, sejak dulu aku selalu salah menafsirkan tiap debaran hatiku.
Aku selalu salah meletakkan cinta.
Sabtu, 01 Maret 2014
Dua Puluh Tiga
Aku sudah
lelah. Kalah melawanmu dalam babak baru di perotasian hidupku. Sore itu, senja
bersembunyi dibalik awan kelam. Tidak mau memberiku secuil kekuatan dan
kehangatan untuk bertahan. Kubaca lagi satu persatu percakapan kita pada pesan
singkatmu malam itu. Kuingat lagi wajah dan suaramu, juga kenangan indah yang
sekaligus konyol diingat lagi. Rinai hujan yang membawa kenangan menetes
perlahan. Aku tersedu membaca semua kenangan yang sudah kurekam dalam bukuku.
Selalu seperti itu, saat senja pergi atau berjalan mendekatiku. Aku tidak
sanggup melihatnya; semua yang berhubungan dengan senja atau apapun itu. Kumohon
berhentilah menjadi bayangan, yang selalu menggandengku dengan haru ataupun
airmata. Pergi dan bawalah aku ke jejak kebahagiaan. Rindu; maafkan aku, yang
hanya selalu menulismu dalam semua aksaraku.
Selamat Sore, Senjaku
Apa haru bisa membuatmu nyaman dengan rindu? Apa ini yang membuat
jarak denganmu dan bahagia? Kumohon beritahu aku, walau itu hanya menyiprat
duka dan menderas air mata. Walau hanya membuat senja dilema memilih
peraduannya. Aku rela, tidak memunculkan pelangi dalam sapuan rinai gerimis
demi melihat senjaku yang sempurna. Melihatmu tertawa dengan rindu, itupun
sudah membuatku bahagia. Meski sayatan itu masih perih, belum sempat tertutup. Aku
rindu. Rindu saat-saat kenangan itu ada. Kapan bisa kita ulangi lagi kenangan
itu? Kenapa tidak bisa? Saat aku dan kamu berubah menjadi kita. Tanpa ada lagi
dingin disaat aku menatap wajahmu. Saat kau melihatku lekat-lekat dengan mata
senyummu. Aku tidak mengerti, kenapa kau meninggalkanku tiba-tiba? Saat aku
benar-benar sudah mendarat di antara bintang-bintang, kamu menunjukkan padaku
bintang yang paling terang malam itu. Lalu, kamu meninggalkanku tersesat dan
kemudian jatuh dalam jurang. Apa itu yang kamu inginkan? Pergi meninggalkanku
demi rindumu di semesta lain? Terima kasih.
Langganan:
Postingan (Atom)