Selasa, 04 Maret 2014

Perih itu (lagi)

Mengingatnya; hanya akan mengais luka yang belum rapat seutuhnya. Menyisakan tentang pangeran senja yang sepenuhnya hanyalah kenangan. Separuh penggalan musik Mozart masih mengalun jelas di telingaku, membuat perih semakin menyesakkan dada dan membuat airmata menderas sia-sia. Terkadang, yang sering dirisaukan pembatas waktu adalah tambatan rindu. Kau tahu, saat aku mendengar ceritamu dari bibir mungilmu. Angin senja seakan menamparku, membuatku sadar bahwa dia bukan milikku seutuhnya. Saat aku hampir menangisi semua sastraku; aku ingat senyumnya, tawa renyahnya, jabat tangannya, bahkan separuh memori yang hampir tergilas itu masih ingat hal konyol yang sering dilakukannya. Deru angin subuh pun tahu, aku masih mencintainya, tidak ingin kehilangan (lagi) semua kenangan tentangnya. Namun saat bintang itu gugur, aku seolah ikut hilang dari kehidupannya. Seperti menyusup ke dimensi lain, yang pastinya kau dan dia tak pernah tau lagi aku dimana. Kurasa, sejak dulu aku selalu salah menafsirkan tiap debaran hatiku. Aku selalu salah meletakkan cinta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar